28.3.07

The hardest way that I choose

Ide di otak gw banyak banget. Banyak yang ga bener maksud gw. Kenapa ga bener, karena jarang banget yang berhasil gw wujudkan.

Tambah lagi, kalo gw berusaha wujudtin (wujudkan, wujudin, ato gmana ya?) salah satu ide gw, pasti caranya ga pernah gampang. Gw selalu milih cara yang susah.

Sebenernya sih, gw pengennya gampang. Cuma entah kenapa semuanya mengarahkan gw pada sesuatu yang susah. ANJROOT...

19.2.07

Lupa (buat boy)

Gw sering lupa, dan gw yakin ga sendirian. Semua orang pasti pernah lupa, kecuali Christopher Boone, anak autis di buku
Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran . Ceritanya seru karena mengambil sudut pandang si anak autis itu memandang dunia.
Tulisan ini ga akan membahas buku itu, tapi tentang lupa. Awalnya gini, gw baca tulisannya Enda tentang lupanya dia kapan terakhir kali Surga dan Neraka memotivasi dia melakukan sesuatu. Dan gw jadi sadar bahwa gw juga udah lupa. Bukan cuma itu, gw juga lupa apa tujuan hidup gw. Saat sholat Jum'at tadi, gw coba mengingat kembali. Ya, tujuan hidup seseorang kadang berubah. Saat ini begini, saat itu begitu.
Tujuan hidup seseorang biasanya membentuk sebuah tujuan jangka panjang dalam hidup. Gw mau lulus kuliah kapan, kerja apaan, merit kapan, punya anak berapa, dan lain2. Dari tujuan2 panjang itu kadang membentuk rencana2 pendek pula. Seperti, kalo mau lulus cepet, brarti gw harus ngambil mata kuliah apa aja semester ini. Dari situ timbul lagi rencana yang lebih pendek lagi, kaya bulan ini mau ngapain dan bla.. bla.. bla.. sampe rencana harian.
Wow.., ternyata hidup gw jadi penuh rencana. Karena kebanyakan, kadang gw lupa dengan rencana jangka panjang dan tujuan hidup.
Namun, ada yang bilang lupa itu anugerah. Kalo ga lupa, betapa menderitanya gw dengan ingatan2 buruk. Saat abang gw meninggal, temen gw kakinya patah,saat patah hati, tsunami Aceh, ngeliat orang kelindes mobil, dan sebagainya.
Afterall, menurut gw, ga papa lah kita lupa, asal jangan lupa dengan tujuan besar kita.


4.1.07

PSEG, Basa-basi yang ga pernah basi…

Tak terasa, udah 5 ½ tahun berlalu sejak pertama kali mengenal istilah Ordik dan PSEG (huhu.. bo'ong deng, terasa banget). Dikerjain, disuruh-suruh, "disiksa" dan berbagai hal baru lain terjadi. Saat itu, enggan juga untuk mengikuti perintah senior, tapi gimana lagi? Didorong untuk mendapatkan pengakuan eksistensi dalam suatu komunitas baru, semua terlewati dengan berat hati. Setelah berhasil dilewati, hal pahit menguap dan yang tersisa hanya hal manis. Ngga akan cukup waktu semalam suntuk, untuk membahas hal manis PSEG.

Pikiran kritis yang pertama muncul sesaat setelah ikut PSEG adalah ikut PSEG ngga nambah pinter. Gimana bisa pinter kalo semua dilakuin dalam keadaan tertekan dan kondisi fisik yang ngedrop. Istilah keren Pra Studi Ekskursi hanyalah BASA BASI. Inti dari PSEG bukanlah pra studi ekskursi.

Seminggu setelahnya, effek mengikuti P SEG sudah terasa. Eksistensi sebagai bagian "anak Geo" di kampus mulai diakui. Semua berposisi sama, meski tetap memahami posisi sendiri sebagai "anak baru". Bahkan, sejak perjalanan pulang dari lokasi PSEG, saya sudah langsung bebas merokok dengan para senior dan alumni. Hihi.. Saat itu saya sadar kalau esensi PSEG bukanlah pra studi ekskursi.

Setahun kemudian, terjadi kesalahpahaman dalam kegiatan ORDIK dan berbuntut pada pelarangan PSEG. Saat itu, saya berperan sebagai panitia PSEG dan tentunya berusaha meluluskan kegiatan tersebut. Baru kali itu saya lihat ruang HMG dipenuhi mahasiswa, dari semua angkatan yang ada di kampus, berkumpul dan mencoba memecahkan suatu masalah. Kejadian yang jarang terjadi dan tidak pernah terjadi lagi setelahnya. PSEG tidak dilaksanakan tahun itu.

Di liburan akhir semester, tahun berikutnya (Januari 2003), diadakan PSEG untuk mahasiswa 2002. PSEG basa-basi agar mahasiswa 2002 diterima oleh angkatan lainnya. Yang ikut hanya panitia, peserta, dosen dan sedikit alumni (tak lebih dari 5). Meski menurut saya, inilah PSEG yang secara istilah benar, karena benar-benar pra studi ekskursi.

          Setelah itu, mahasiswa 2003 masuk dengan eforia menjaga keberlangsungan PSEG sangat besar. Semua angkatan berperan untuk mengajak maba ikut PSEG. Dan.., PSEG 2003 sukses jika dilihat dari jumlah peserta yang ikut dan "rapat besar" pengakuan atas eksistensi mahasiswa 2002. Sekali lagi, istilaah pra studi ekskursi hanya basa-basi.

          Angkatan 2004, peserta PSEG kurang dari ½ jumlah mahasiswa baru. Entah mengapa... padahal jumlah senior dan alumni yang hadir cukup banyak. Mulai saat itu muncul inisiatif Departemen Geografi untuk membuat sertifikat untuk para peserta PSEG. Tujuannya, mewajibkan PSEG untuk mahasiswa baru. Angkatan 2005, peserta PSEG kembali banyak, sayangnya alumni yang hadir sangat sedikit. Tenda pleton nyaris kosong. Apa perlu sertifikat untuk alumni yang hadir? J

          Sebentar lagi, PSEG untuk maba 2006 akan digelar, tepatnya 12-14      Januari 2007. Panitia sudah terlihat bekerja keras (ada yang ngamen loh buat nyari dana PSEG... Gilee...). Peserta sudah mulai joging-joging. So.., lets the party started..

Harapan saya, basa-basi ini akan kembali semarak.. Mahasiswa baru banyak yang ikut, senior dan alumni banyak yang hadir, dan kekerabatan kita semakin terjaga.

Semoga tidak ada yang tersinggung dengan tulisan ini. Toh, bila kita ketemu alumni dijalan dan bingung harus memulai pembicaraan, PSEG lagi-lagi bisa dijadikan BASA BASI. Kapan PSEG? Panitianya siapa? Sumbangan dikirim kemana nih? Kaosnya keren ga? Gue usahain dateng deh nanti...

Untuk para alumni : Dateng dong PSEG... jangan kapok ya kalo tahun kemaren dikit yang dateng. Tahun ini banyak deh yang dateng... hehe...

Untuk Senior : Ikut dong..?? Kapan lagi Cuy ngumpul bareng begini...

Untuk Panitia : Cari dana yang giat ya... tapi jangan ngamen lah.. ga enak ngeliatnya (kaya ga ada cara laen aja). Alumni dan senior banyak kok...

Untuk Peserta : HEEH.... IKUT LO SEMUA...!!! Hehe... santai Bro n Sis... ga apa-apa kok..

Untuk orang yang menentang PSEG: Ikut dong PSEG, biar tau apa yang lo tentang itu...!!



20.10.06

16.7.06

Pertandingan Kampung

Selayaknya menyambut Hari Kemerdekaan RI, tujuhbelasan lah kita biasa menyebutnya. Dikampung gw, RW gw tepatnya, mengadakan beberapa pertandingan antar RT. Gw udah lama banget nih meninggalkan ritual tahunan ini. Waktu gw kecil, gw ga pernah lepas sama rangkaian kegiatan ini, sampe ujung2nya panggung RW. Mendukung RT sendiri berlaga, merupakan keasikan buat gw dan temen2 kecil gw tiap tahunnya.

Dulu, pertandingan favorit adalah bulutangkis atau badminton, selain volly, tenismeja, catur, sampe tariktambang. Biasanya, menjelang event ini berlangsung, gw n friend sibuk mencari "pletekan". Pletekan itu sejenis buah (atau biji ya?) seperti lidi sepanjang dua ruas jari kelingking, yang kalo kena air dia bisa pecah sediri (meletek). Gw ga tau nama benernya apa, yang gw tau namanya pletekan. Oiya, yang bisa meletek sendiri hanya yang sudah tua/ kering dan ditunjukan dengan warnanya yang hitam.  

Pletekan ini akan digunakan untuk ngisengin orang. Langkahnya, ambil satu atau dua biji pletekan, masukan dalam mulut sebentar, taruh di kepala orang secara perlahan. Setelah itu, larilah secepat mungkin. Dari tempat yang "aman", kita tinggal ngeliatin orang itu kebingungan dengan apa yang terjadi. Biasanya orang bakal celingak-celinguk karena menyangka ada yang nimpuk dia... Bila berhasil atau tidak ketahuan, gw akan tertawa puas dari jauh... Huehehe....

Saking seringnya gw ngisengin orang dan beberapa kali tertangkap basah, orang jadi tau kalo terjadi hal serupa, maka orang akan menyangka gw lah pelakunya. Meski yang ngelakuin bukan gw, tetep aja gw yang kena. Huehehe.. tapi ga papa sih, ga bakal segitu marahnya, apa lagi sampe berantem, namanya juga anak kecil. Piss...

Yang sering berantem malahan pendukung antar kontingen kedua RT yang bertanding. Biasanya mereka yang berusia dikisaran SMA, kuliah atau sekitarnya. Maklum, jiwa muda, ga bisa dicolek dikit, bawaannya ngajak berantem. Meski begitu, masalahnya cepet selesai kok, abis temen sendiri juga, temen satu kampung. Mereka bisa dikontrol karena temen RT-nya masing2 saling menjaga emosi temennya.

Pernah juga sih yang melibatkan perkelahian bapak-bapak. Hmm..., jaman dulu banget. Ada seorang bapak yang baru balik dari tugas di Timor Timur, dan belom bisa menjaga emosinya kembali. Dia ngamuk karena anaknya maen badminton dicurangin.. hehe... Tapi, hal itu juga cepet selesai kok. Soalnya, yang pergi Timor Timur itukan ga cuma dia doang. Gw pernah cerita kan kalo rumah gw di Ragunan, yang deket Cilandak KKO, markas Marinir? Iya, akhirnya temen "seperjuangan" bapak itu yang menenangkan. Setelah itu, pertandingan tujuhbelasan di kampung gw happy everafter lagi.

Udah lama juga lho gw meninggalkan pagelaran tahunan ini, <b>secara</b> (*bukan bahasa yang baik dan benar) gw udah beberapa tahun nge-kost di Depok.  Sampe kemaren, pas gw balik ke rumah, diajak berlaga di pertandingan RW.

Pagi-pagi (jam 7 pagi gw anggep masih subuh), gw dibangunin untuk ikut bertanding futsal. Waduh..., bisa maen juga ngga, kok diajak membela nama baik RT? Ternyata, mereka juga kepaksa ngajak gw karena ga ada orang lagi. Temen2 gw yang harusnya bermain, berhalangan karena harus kerja. Dan jujur, gw menolak, semenolak-nolaknya. Huehehe... Iya lah, dari dulu gw ga berbakat di bidang olahraga. Kalo ngisengin orang, itu baru bakat alam gw.

Fiuuh... Akhirnya gw bertanding juga, ya... daripada WO. Idealnya, peserta yang bertanding itu 5 orang dengan 5 orang lagi cadangan. Pergantian pemain dapat dilakukan kapan saja, saat bola mati. Dan sayangnya, tim gw cuma 5 orang tanpa pemain pengganti. Huaa... tersiksa amat sangat, karena kelelahan dan kehabisan nafas. Sementara mereka (lawan gw), dengan asiknya bergantian pemain.

Ya.. hasil akhir bisa ditebak. Tim gw dibantai habis-habisan. 13 gol ke gawang gw dan 5 gol ke gawang mereka. Huehehe... Jangan ngejek ya... Itu juga udah susah payah. Daripada WO? Hmm..., apa mending WO aja ya? Huehehe... Ya... itung-itung olahraga. Lumayan lah.

Untuk membahagiakan tim, kita sepakat kalo wasit tidak bekerja dengan baik. Iyalah, si wasit itu ketua panitia yang ga ngerti masalah futsal. Yang seharusnya jadi wasit, berhalangan hadir karena harus kerja. Lagian panitia ada-ada aja, pertandingan kok hari Sabtu pagi. Yaa.. maklum lah, kalo kalah nyalahinnya wasit. Upss.., jangan dimaklumin deng.

Tapi gw salut dengan panitia. Katanya, tahun ini ada peraturan baru yang cukup keren. Pemain tidak boleh dari militer, mereka harus orang sipil. Keputusan ini diambil karena tahun lalu ada seorang "oknum" yang sombongnya minta ampun karena dia "anggota". Bawaannya ngajak berantem orang mulu, jadi ga asik pertandingannya. So, ga boleh ada pemain yang dari Marinir, Kopassus, Polisi, Denjaka, dan segala angkatan lain. Hmm..., kalo Satpam boleh lah... temen gw Satpam soalnya, dan boleh maen kok.

Gw agak heran juga awalnya dengan peraturan baru ini. Tapi gimana, itu udah keputusan bersama antar ketua RT, yang notabene, kebanyakan dari mereka "anggota" juga. Selama ini yang paling mudah menyelesaikan masalah adalah dengan kontrol sosial. Rasa malu untuk berbuat onar masih kuat di hati warga, yang seharusnya "oknum" itu juga punya. Wong mantan narapidana aja punya kok. Temen gw, yang baru keluar dari penjara karena ngebunuh orang, masih bisa nahan emosinya kalo diingetin. Masa mereka ngga bisa.