Malam minggu lalu, di belakang Kebun Binatang Ragunan (KBR) ada pengajian. Ya, yang suka datang ramai-ramai naik motor tanpa helm itu. Kebetulan, saya pulang dari rumah kawan di Pramuka, dan naik Trans Jakarta hingga KBR.
Menuju rumah, saya melintasi banyak sekali alay, kali ini mereka berkoko dan berpeci untuk yang cowo, dan berpakaian muslimah untuk cewe. Mereka tidak berada di mesjid, mereka ada di jalan menuju mesjid, mereka saling menggoda. Cari pasangan. Peluang asyik untuk pacaran keliling kota tanpa helm, SIM atau mungkin STNK tanpa takut ditindak Polisi.
Hari minggunya, saya sedang asyik makan sop buah di Pasar Pondok Labu. Ada empat cewe -- smp atau mungkin sma-- datang ke kedai sop buah itu juga. Mereka ingin membeli, tapi sepertinya masih ragu, dengan harga tujuh ribu rupiah. Mereka tawar lima ribu rupiah, dan penjual setuju.
Mereka mengobrol sembari menunggu sop buahnya datang. "Get married? wah, ga resep gw mah. Nonton bioskop itu resepnya yang horor-horor setan. Ada kaget-kagetnya. Jadi kan seru sama cowo", ujar salah seorang dari mereka. Saya diam dan berpaling ke sop buah, sebelum minat saya hilang, saya nikmati sop buah itu hingga tandas.
12.9.11
1.2.11
mengalay
Sebaiknya kita tidak tergantung pada mood yang ada. Tidak tergantung
pada keinginan hati sementara.
pada keinginan hati sementara.
Mungkin benar pendapat para pengagung kedisplinan, dengan displin
sesungguhnya orang tersebut bebas sebebas2nya. Mereka tidak takut akan
konsekuensi dari terlambatnya pekerjaan. Sementara para freeman
bingung dengan apa yang akan dilakukan selanjutnya, para disipliner
asik memikirkan rencana selanjutnya.
Benar memang hidup ini pilihan. Kebebasan yang seharusnya menjadi hak
asasi pertama manusia yang perlu masuk ke dalam udang2 manapun yang
pernah dibuat para bapak bangsa di dunia. Bebaslah memilih..
Saya memilih tidur dulu. Ya, saya pemalas.
3.11.10
Overload
Akhir-akhir ini, saya merasa semakin kekenyangan informasi. Saya merasa begah dengan segala serangan informasi dari beragam media. Dan merasa ingin muntah.
Saya bagaikan orang yang menonton sebuah film reality aneh di bioskop. Film yang sutradara, kameraman dan editornya makan gaji buta, hingga film menjadi kacau. Adegan per adegan datang dari kiri ke kanan, atas ke bawah, atau sebaliknya dan semua berebut muncul di hadapan. Tanpa henti, tanpa jeda. Semua membuat pusing dan merasa tidak berdaya. Akibatnya, saya menjalani hidup ini seperti penonton. Dan hidup ini pun terasa menjadi film itu sendiri, atau sebaliknya.
Saya mencoba membahas ini dengan seseorang. Jujur, saya tidak tau pernah membahasnya dengan seseorang, atau saya hanya berbicara pada pikiran saya sendiri. Intinya, saya pernah memikirkan mengapa segala informasi ini, dan hidup saya menjadi seperti film. (di saat ini, tiba-tiba otak saya menyanyikan lagu "when everything seems like a movie" dan berkelebat tulisan "go go dols, Irish").
Dalam pembahasan tersebut, muncul kesimpulan, saya adalah golongan orang jadul (jaman dulu). Golongan orang yang tidak siap masuk ke dalam abad informasi seperti saat ini. Orang yang tidak memiliki atau tidak cukup kemampuan mengikuti era informasi ini.
Memang kemampuan apa yang wajib kita butuhkan untuk menghadapi era informasi ini? Filter..!! (jawaban yang muncul tiba-tiba, disertai gambar rokok gudang garam filter yang juga tiba-tiba).
Filter akan informasi yang kita terima. Yang mau kita terima. Yang butuh kita terima.
Beberapa tahun sebelumnya, kita punya surat kabar langganan yang bertugas memfilter informasi tersebut. Badan sensor, TVRI, Departemen Penerangan yang memfilter apa yang boleh dan tidak boleh kita tonton. (Gambar Soeharto tiba-tiba muncul). Yang kini semua telah tiada. Almarhum.
Ditambah dengan teknologi yang kini menjadi keran baru informasi. Internet. (Gambar keran tidak muncul, tapi gorong-gorong penuh air yang mengalir deras muncul, belum sempat terpikir, langsung berganti gambar tsunami yang menghempas saya dalam ombang-ambing kebingungan. Ya, ada gambar saya di situ.)
Saya benar-benar butuh filter dan penghenti. Saya sudah terlalu tergila-gila pada internet, akan informasi, haus update, ga sabaran. Saya cepat bosan, yang menjadi sifat orang jaman sekarang. (saya batalkan kan untuk memberi contoh, tentu saya akan bosan juga. Di sekeliling kita contoh itu banyak).
Saya merindukan hidup tentram. Hidup layaknya orang tua saya di rumah. Tapi saya tidak mau juga ketinggalan informasi. Informasi yang saya butuhkan untuk bekerja, hidup, dan mendapatkan kesenangan. Saya hanya butuh penyaring informasi. Saya hanya butuh sesuatu yang membuat saya berhenti mencari tau. Berhenti mencari update.
Semua ini pembenaran akan rencana saya berlangganan koran. Mungkin Kompas. Bukan versi digital, karena tidak akan ada selesainya. Dan saya tidak mau juga seperti tukang koran keranjingan, yang memegang semua koran di tangan dan membacanya.
Tiba-tiba terlintas salah satu proyek pembuatan website untuk sebuah instansi pemerintah yang sedang saya kerjakan. Saya diminta untuk tidak meng-online-kannya. Alasannya, nilai perkerjaan saya terlalu kecil katanya. Padahal menurut saya, harganya cukup untuk membuat dua website sekaligus. Tapi tidak untuk mereka, karena katanya, untuk membuatnya online, anggaran yang digunakan seharusnya lima kali lebih besar.
Ya, pikiran saya sedang kacau.
7.4.10
14.2.10
Indonesia di Benak Kita
Pada tahun 2006, saat saya masih kuliah, isu mengenai pemekaran wilayah begitu santer terdengar. Pemekaran wilayah mulai propinsi, kabupaten hingga kecamatan. Entah karena apa, namun dugaan saya kebijakan ekonomi daerah lah pemicunya. Para pemuka daerah berlomba ingin menentukan wilayahnya sendiri-sendiri, menarik garis batas kekuasaan, dan meminta jatah pembangunan yang dulunya mungkin sedikit sampai.
Di lain pihak, rakyat Indonesia lainnya sibuk memenuhi kebutuhannya. Hingga berita tentang mekarnya suatu wilayah nun jauh di sana kurang menarik perhatiannya. Toh, tidak ada pengaruhnya secara langsung untuk mereka.
Ada pepatah mengatakan,"tak kenal maka tak sayang". Begitu pula bangsa ini. Bagaimana mungkin akan dicintai rakyatnya, bila mereka tidak mengenali wilayahnya. Terutama para pemuda, para penerus bangsa. Parahnya lagi bila daerah di dalam negaranya malah di nilai negatif oleh mereka.
Kekhawatiran ini belum tentu benar, dan diperlukan penelitian lebih lanjut untuk itu. Saya dan beberapa teman mencoba membuat penelitian tersebut dan mendokumentasikannya.
Hasilnya adalah video dibawah ini. Benar atau salah, mari bersama kita renungi.
Subscribe to:
Comments (Atom)