Gw yakin, kalo ada orang dikatain jelek pasti tersinggung. Ga perduli kalo dia memang jeleknya jelek banget, tetep aja ngga mau dibilang jelek. Ya, gw sadar banget.
Tapi, :
1. kalo ada yang bilang "orang jelek" itu ganteng atau cantik bukan berarti dia jadi bener kan? Hmm... kecuali pacarnya atau ibunya paling yang bilang dia itu cakep. Atau, dia itu ga bisa bedain mana cakep mana jelek.
2. bukan berarti pula, dengan mengatakan seseorang jelek, maka si "orang jelek" itu kehilangan maknanya menjadi manusia.
3. bukan berarti orang yang bilang "orang jelek" itu jelek, lebih ganteng.
Disini, gw bukan mau cerita masalah jelek atau cakep seseorang, tapi sebuah karya yang dibuat orang. Pengantar di atas cuma analogi dari pikiran yang buat gw masuk akal.
Mengapa gw nulis seperti ini? Begini ceritanya.
Sewaktu gw di kost-an, temen gw dateng dan bilangin gw kalo ada adek kelas gw menulis sebuah cerita chicklit. Chiklit itu diterbitin oleh salah satu penerbit yang cukup masyur dalam bentuk buku.
Wow, how excited I am...! Secara gw suka baca -- HUUALLAH -- Mendengar itu, gw langsung cari buku tersebut di toko buku depan kost-an. Dan terbeli dengan merelakan uang sebesar Rp.28.000,- rupiah.
Setelah baca... gw menyesal uang gw buang begitu saja. Intinya, gw bilang buku itu jelek. J-E-L-E-K. Gw ga asal-asalan bilang jelek kok. Nih alasannya :
A. Sudut pandang pencerita berubah-ubah. Kadang si A, kadang si B. Memang hal ini biasa dilakukan penulis lain, tapi dikasi tau lah kalo udah pindah pencerita. Mungkin karena yang nulis dua orang, jadi begini akibatnya.
B. Alur cerita ga nyambung.
C. Ending-nya ga jelas.
D. Penokohannya membingungkan.
E. Gw menilai penulis terlalu larut pada khayalannya dan menganggap semua pembaca mempunyai latar yang sama. Mana bisa?? makanya gw cape bacanya...
So, setelah gw bilang pendapat ini ke temen2 gw yang lain, mereka komplain dan menyalahkan gw. "Parah lo, kan bikin buku sampe diterbitin begitu ga gampang". Iya, gw juga tau.
Maka itu, buat lo yang ga terima akan pendapat gw itu, maka kembalilah ke analogi gw di awal :
1. Bukan berarti kalo gw bilang buku itu jelek, gw salah dan lo bener dengan bilang buku itu bagus. Dan ini bukan pertama kalinya gw bilang sebuah buku jelek. Kalo emang bagus juga gw promosiin.
2. Bukan berarti buku itu kehilangan maknanya sebagai sebuah buku. Gw tau buku itu berarti banget buat pengarangnya, penerbitnya atau keluarganya. Atau gw yang kehilangan uang secara sadar. Semua ada hikmahnya.
3. Bukan berarti kalo gw bilang buku itu jelek, gw bisa bikin buku bagus. Hehehe... gw ga pernah publish buku kok...
Afterall, mohon maap atas segala kekurangannya. Wabbilahi taufik wal hidayah... Wss Wr Wb...
8.3.12
12.9.11
alay
Malam minggu lalu, di belakang Kebun Binatang Ragunan (KBR) ada pengajian. Ya, yang suka datang ramai-ramai naik motor tanpa helm itu. Kebetulan, saya pulang dari rumah kawan di Pramuka, dan naik Trans Jakarta hingga KBR.
Menuju rumah, saya melintasi banyak sekali alay, kali ini mereka berkoko dan berpeci untuk yang cowo, dan berpakaian muslimah untuk cewe. Mereka tidak berada di mesjid, mereka ada di jalan menuju mesjid, mereka saling menggoda. Cari pasangan. Peluang asyik untuk pacaran keliling kota tanpa helm, SIM atau mungkin STNK tanpa takut ditindak Polisi.
Hari minggunya, saya sedang asyik makan sop buah di Pasar Pondok Labu. Ada empat cewe -- smp atau mungkin sma-- datang ke kedai sop buah itu juga. Mereka ingin membeli, tapi sepertinya masih ragu, dengan harga tujuh ribu rupiah. Mereka tawar lima ribu rupiah, dan penjual setuju.
Mereka mengobrol sembari menunggu sop buahnya datang. "Get married? wah, ga resep gw mah. Nonton bioskop itu resepnya yang horor-horor setan. Ada kaget-kagetnya. Jadi kan seru sama cowo", ujar salah seorang dari mereka. Saya diam dan berpaling ke sop buah, sebelum minat saya hilang, saya nikmati sop buah itu hingga tandas.
Menuju rumah, saya melintasi banyak sekali alay, kali ini mereka berkoko dan berpeci untuk yang cowo, dan berpakaian muslimah untuk cewe. Mereka tidak berada di mesjid, mereka ada di jalan menuju mesjid, mereka saling menggoda. Cari pasangan. Peluang asyik untuk pacaran keliling kota tanpa helm, SIM atau mungkin STNK tanpa takut ditindak Polisi.
Hari minggunya, saya sedang asyik makan sop buah di Pasar Pondok Labu. Ada empat cewe -- smp atau mungkin sma-- datang ke kedai sop buah itu juga. Mereka ingin membeli, tapi sepertinya masih ragu, dengan harga tujuh ribu rupiah. Mereka tawar lima ribu rupiah, dan penjual setuju.
Mereka mengobrol sembari menunggu sop buahnya datang. "Get married? wah, ga resep gw mah. Nonton bioskop itu resepnya yang horor-horor setan. Ada kaget-kagetnya. Jadi kan seru sama cowo", ujar salah seorang dari mereka. Saya diam dan berpaling ke sop buah, sebelum minat saya hilang, saya nikmati sop buah itu hingga tandas.
1.2.11
mengalay
Sebaiknya kita tidak tergantung pada mood yang ada. Tidak tergantung
pada keinginan hati sementara.
pada keinginan hati sementara.
Mungkin benar pendapat para pengagung kedisplinan, dengan displin
sesungguhnya orang tersebut bebas sebebas2nya. Mereka tidak takut akan
konsekuensi dari terlambatnya pekerjaan. Sementara para freeman
bingung dengan apa yang akan dilakukan selanjutnya, para disipliner
asik memikirkan rencana selanjutnya.
Benar memang hidup ini pilihan. Kebebasan yang seharusnya menjadi hak
asasi pertama manusia yang perlu masuk ke dalam udang2 manapun yang
pernah dibuat para bapak bangsa di dunia. Bebaslah memilih..
Saya memilih tidur dulu. Ya, saya pemalas.
3.11.10
Overload
Akhir-akhir ini, saya merasa semakin kekenyangan informasi. Saya merasa begah dengan segala serangan informasi dari beragam media. Dan merasa ingin muntah.
Saya bagaikan orang yang menonton sebuah film reality aneh di bioskop. Film yang sutradara, kameraman dan editornya makan gaji buta, hingga film menjadi kacau. Adegan per adegan datang dari kiri ke kanan, atas ke bawah, atau sebaliknya dan semua berebut muncul di hadapan. Tanpa henti, tanpa jeda. Semua membuat pusing dan merasa tidak berdaya. Akibatnya, saya menjalani hidup ini seperti penonton. Dan hidup ini pun terasa menjadi film itu sendiri, atau sebaliknya.
Saya mencoba membahas ini dengan seseorang. Jujur, saya tidak tau pernah membahasnya dengan seseorang, atau saya hanya berbicara pada pikiran saya sendiri. Intinya, saya pernah memikirkan mengapa segala informasi ini, dan hidup saya menjadi seperti film. (di saat ini, tiba-tiba otak saya menyanyikan lagu "when everything seems like a movie" dan berkelebat tulisan "go go dols, Irish").
Dalam pembahasan tersebut, muncul kesimpulan, saya adalah golongan orang jadul (jaman dulu). Golongan orang yang tidak siap masuk ke dalam abad informasi seperti saat ini. Orang yang tidak memiliki atau tidak cukup kemampuan mengikuti era informasi ini.
Memang kemampuan apa yang wajib kita butuhkan untuk menghadapi era informasi ini? Filter..!! (jawaban yang muncul tiba-tiba, disertai gambar rokok gudang garam filter yang juga tiba-tiba).
Filter akan informasi yang kita terima. Yang mau kita terima. Yang butuh kita terima.
Beberapa tahun sebelumnya, kita punya surat kabar langganan yang bertugas memfilter informasi tersebut. Badan sensor, TVRI, Departemen Penerangan yang memfilter apa yang boleh dan tidak boleh kita tonton. (Gambar Soeharto tiba-tiba muncul). Yang kini semua telah tiada. Almarhum.
Ditambah dengan teknologi yang kini menjadi keran baru informasi. Internet. (Gambar keran tidak muncul, tapi gorong-gorong penuh air yang mengalir deras muncul, belum sempat terpikir, langsung berganti gambar tsunami yang menghempas saya dalam ombang-ambing kebingungan. Ya, ada gambar saya di situ.)
Saya benar-benar butuh filter dan penghenti. Saya sudah terlalu tergila-gila pada internet, akan informasi, haus update, ga sabaran. Saya cepat bosan, yang menjadi sifat orang jaman sekarang. (saya batalkan kan untuk memberi contoh, tentu saya akan bosan juga. Di sekeliling kita contoh itu banyak).
Saya merindukan hidup tentram. Hidup layaknya orang tua saya di rumah. Tapi saya tidak mau juga ketinggalan informasi. Informasi yang saya butuhkan untuk bekerja, hidup, dan mendapatkan kesenangan. Saya hanya butuh penyaring informasi. Saya hanya butuh sesuatu yang membuat saya berhenti mencari tau. Berhenti mencari update.
Semua ini pembenaran akan rencana saya berlangganan koran. Mungkin Kompas. Bukan versi digital, karena tidak akan ada selesainya. Dan saya tidak mau juga seperti tukang koran keranjingan, yang memegang semua koran di tangan dan membacanya.
Tiba-tiba terlintas salah satu proyek pembuatan website untuk sebuah instansi pemerintah yang sedang saya kerjakan. Saya diminta untuk tidak meng-online-kannya. Alasannya, nilai perkerjaan saya terlalu kecil katanya. Padahal menurut saya, harganya cukup untuk membuat dua website sekaligus. Tapi tidak untuk mereka, karena katanya, untuk membuatnya online, anggaran yang digunakan seharusnya lima kali lebih besar.
Ya, pikiran saya sedang kacau.
7.4.10
Subscribe to:
Comments (Atom)