12.9.11

alay

Malam minggu lalu, di belakang Kebun Binatang Ragunan (KBR) ada pengajian. Ya, yang suka datang ramai-ramai naik motor tanpa helm itu. Kebetulan, saya pulang dari rumah kawan di Pramuka, dan naik Trans Jakarta hingga KBR.
Menuju rumah, saya melintasi banyak sekali alay, kali ini mereka berkoko dan berpeci untuk yang cowo, dan berpakaian muslimah untuk cewe. Mereka tidak berada di mesjid, mereka ada di jalan menuju mesjid, mereka saling menggoda. Cari pasangan. Peluang asyik untuk pacaran keliling kota tanpa helm, SIM atau mungkin STNK tanpa takut ditindak Polisi.
Hari minggunya, saya sedang asyik makan sop buah di Pasar Pondok Labu. Ada empat cewe -- smp atau mungkin sma-- datang ke kedai sop buah itu juga. Mereka ingin membeli, tapi sepertinya masih ragu, dengan harga tujuh ribu rupiah. Mereka tawar lima ribu rupiah, dan penjual setuju.
Mereka mengobrol sembari menunggu sop buahnya datang. "Get married? wah, ga resep gw mah. Nonton bioskop itu resepnya yang horor-horor setan. Ada kaget-kagetnya. Jadi kan seru sama cowo", ujar salah seorang dari mereka. Saya diam dan berpaling ke sop buah, sebelum minat saya hilang, saya nikmati sop buah itu hingga tandas.

1.2.11

mengalay

Sebaiknya kita tidak tergantung pada mood yang ada. Tidak tergantung
pada keinginan hati sementara.

Mungkin benar pendapat para pengagung kedisplinan, dengan displin
sesungguhnya orang tersebut bebas sebebas2nya. Mereka tidak takut akan
konsekuensi dari terlambatnya pekerjaan. Sementara para freeman
bingung dengan apa yang akan dilakukan selanjutnya, para disipliner
asik memikirkan rencana selanjutnya.

Benar memang hidup ini pilihan. Kebebasan yang seharusnya menjadi hak
asasi pertama manusia yang perlu masuk ke dalam udang2 manapun yang
pernah dibuat para bapak bangsa di dunia. Bebaslah memilih..

Saya memilih tidur dulu. Ya, saya pemalas.